Minggu, 20 Mei 2012

Persiapan media dan larutan pengenceran mPN coli form

PERSIAPAN MEDIA
DAN
LARUTAN PENGENCER
No                   : 01

Hari ,tanggal   : selasa, 15 mei 2012

Materi              : larutan pengencer

Tujuan umum :

1.      Mengetahui media kultur dan larutan pengencer yang digunakan dalam pekerjaan-pekerjaan mikrobiologi serta dapat membuatnya secara aseptik.
2.      Untuk mensucihamakan dan membasmi mikroba-mikroba yang terdapat di  media umum.

Prinsip/Teori Singkat :

v  Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh yang disesuaikan dengan lingkungan hidupnya. Media kultur berdasarkan konsistensinya dibedakan atas tiga macam, yaitu:
v  Media cair (liquid medium) adalah medium berbentuk cair yang dapat digunakan untuk tujuan menumbuhkan atau membiakan mikroba, penelaah fermentasi, uji-uji lain
v  Contohnya : Nutrient Broth (NB), Lactose Broth (LB) dan kaldu sapi.
v  Media semi padat (semi solid medium), biasanya digunakan untuk uji mortalitas (pergerakan) mikroorganisme dan kemampuan fermentasi,
v  Contohnya : Agar dengan konsentrasi rendah 0,5%.
v  Media padat (solid medium) adalah medium yang berbentuk padat yang dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba dipermukaan sehingga membentuk koloni yang dapat dilihat, dihitung dan diisolasi.
v  Contohnya:  Nutrient Agar (NA), Plate Count Agar (PCA), Potato Dextrose Agar (PDA), gelatin, silika gel dan beberapa limbah pertanian berbentuk padat.
v  Media berdasarkan fungsinya, yaitu:
v  Media diperkaya (enriched medium) adalah medium yang ditambah zat-zat tertentu (serum, darah, ekstrak tumbuhan dan lain-lain), digunakan untuk menumbuhkan mikroba heterotrof.
v  Media selektif (selective medium) adalah media yang ditambah zat kimia tertentu yang bersifat selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain sehingga dapat mengisolasi mikroba tertentu, misalnya media yang mengandung kristal violet pada kadar tertentu, dapat mencegah pertumbuhan bakteri gram positif tanpa mempengaruhi bakteri gram negatif.
v  Contohnya :    Endo Agar, EMB(Eosin Metilena Biru) Agar
§  SSA (Salmonella Shygella Agar)
§  VRB (Violet Red Bile Agar)
v  Media diferensial (deferential medium) adalah media yang ditambahkan zat kimia tertentu yang menyebabkan mikroba membentuk pertumbuham atau mengadakan perubahan tertentu hingga dapat membedakan tipenya.
v  Contohnya :    TSIA (Triple Sugar Iron Agar)
v  Media penguji (assay medium) adalah media dengan susunan tertentu digunakan untuk pengujian-pengujian vitamin, asam amino, antibiotik dan lain-lain.
v  Media untuk perhitungan jumlah adalah media spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba
v  Contohnya : Plate Count agar (PCA).
v  Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan

v  Larutan pengencer/ larutan fisiologis adalah larutan yang digunakan untuk mengencerkan contoh pada analisis mikrobiologi. Pengenceran dilakukan untuk memperoleh contoh dengan jumlah mikroba terbaik untuk dapat dihitung yaitu antara 30 sampai 300 sel mikroba per ml. Pengenceran biasanya dilakukan 1:10, 1:100, 1:1000, dan seterusnya.

Alat dan Bahan:

Alat-alat:
v  Tabung reaksi bertutup dan tanpa tutup
v  Sumbat tabung (kapas)
v  Rak tabung
v  Cawan petri
v  Pembakar Spirtus
v  Erlenmeyer 100ml
v  Hot Plate
v  Spatula
v  Inkubator
v  Autoklaf
v  Tabung Durham

Bahan-bahan :
v  Media Nutrient Agar (NA)
v  Plate Count Agar (PCA)
v  Potato Dextrose Agar (PDA)
v  Nutrient Broth (NB)
v  NaCl

Prosedur :

Pembuatan Media PDA
a)      Ditimbang 4.9 gram PDA dan dimasukan ke dalam Erlenmeyer 100ml.
b)      Dilarutkan dengan 100ml air, lalu dihomogenkan.
c)      Dipanaskan di hot plate sambil diaduk hingga larutan mendidih.
d)     Ditutup dengan alumunium foil.
e)      Disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 800oC selama 20 menit.
f)       Pembuatan Media PCA
i.        Ditimbang 2.35 gram PCA dan dimasukan ke dalam Erlenmeyer 100ml.
ii.      Dilarutkan dengan 100ml air, lalu dihomogenkan.
iii.    Dipanaskan di hot plate sambil diaduk hingga larutan mendidih.
iv.    Ditutup dengan alumunium foil.

v.      Disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 800oC selama 20 menit.


Pembuatan Media NA
v  Ditimbang 2.3 gram NA dan dimasukan ke dalam  Erlenmeyer 100ml.
v  Dilarutkan dengan 100ml air, lalu dihomogenkan.
v  Dipanaskan di hot plate sambil diaduk hingga larutan mendidih.
v  Ditutup dengan alumunium foil.
v  Disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 800oC selama 20 menit.
Pembuatan Media NB
v  Ditimbang 0.8 gram PDA dan dimasukan ke dalam Erlenmeyer 100ml.
v  Dilarutkan dengan 100ml air, lalu dihomogenkan
v  Dipanaskan di hot plate sambil diaduk hingga larutan mendidih.
v  Ditutup dengan alumunium foil.
v  Disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 800oC selama 20 menit.
v  Pembuatan Larutan Fisiologis
v  Ditimbang 0.8 gram NaCl dan dimasukan ke dalam Erlenmeyer 100ml.
v  Dilarutkan dengan 100ml air, lalu dihomogenkan
v  Dipanaskan di hot plate sambil diaduk hingga larutan mendidih.
v  Ditutup dengan alumunium foil.
v  Disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 800oC selama 20 menit.
Penuangan Media
v  Setelah media disterilisasi, media dituangkan sesuai prosedur berikut :
v  Agar cawan
v  Disiapkan media PCA
v  Pembakar spirtus
v  Didekatkan api media PCA/ PDA dituangkan kedalam cawan petri sampai merata.
v  Cawan petri diputar membentuk angka 8, didiamkan sampai padat.
v  Untuk media PCA prosedur sama dengan prosedur di atas.
v  Agar tegak
v  Disiapkan media NA
v  Pembakar spirtus
v  Didekatkan api media NA dituangkan kedalam tabung reaksi se sampai merata.
v  Didiamkan sampai padat.
v  Untuk media PDA prosedur sama dengan prosedur di atas.

Agar miring
v  Disiapkan media NA
v  Pembakar spirtus
v  Didekatkan api media NA dituangkan kedalam tabung reaksi se sampai merata.
v  Dimiringkan, didiamkan sampai padat.
v  Untuk media PDA prosedur sama dengan prosedur di atas.
v  Medium cair berisi tabung durham
Disiapkan media NB
v  Pembakar spirtus
v  Didekatkan api media NB dituangkan kedalam tabung reaksi sampai merata.
v  Dimasukan tabung Durham yang sudah disterilkan dengan bantuan pinset.
v  Kemudian media diinkubasi selama 24 jam dalam incubator.
v   

D.      Data Pengamatan/ Gambar

PDA
Foto000                     Pda

Pda bgs

PCA
Pca
NA
NB
NbNa





           

Pembahasan

.           Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh dan sesuai dengan lingkungan hidupnya. Berdasarkan hasil yang dilakukan diperoleh hasil bahwa sebagian besar media telah terkontaminasi oleh mikroorganisme. Padahal semua media belum dibiakan mikroorganisme dan semua alat serta bahan (media) sudah disterilkan.
Berdasarkan pengamatan diperoleh hasil sebagai berikut:

PDA
v  Agar tegak
v  Media berubah warna menjadi lebih keruh, dan pada bagian atasnya terdapat mikroorganisme yang berwarna putih.

Agar cawan
v  Pada cawan pertama, terdapat mikroorganisme yang terletak pada bagian pinggir dan tengah media yang berbentuk bulat kecil-kecil yang membentuk koloni tertentu yang ukurannya hampir sama satu dengan yang lainnya.
v  Pada cawan kedua, sebanyak ±80% media terkontaminasi mikroorganisme yang saling menyatu.
v  Pada cawan ketiga, sebanyak ±90% media terkontaminasi mikroorganisme yang saling menyatu.
Agar miring
v  Media tidak terkontaminasi mikroorganisme.
PCA
v  Pada semua cawan terkontaminasi oleh mikroorganisme yang berwarna putih, berbentuk bulat,serabut dan berkoloni.
NA
v  Semua media berubah warna menjadi lebih keruh dan terkontamisasi oleh mikroorganisme yang berbentuk bulat.
NB
v  Semua media yang dimasukan kedalam tabung reaksi terkontaminasi oleh mikroorganisme, karena terdapat gelembung udara pada setiap tabung durham.

Ø  Faktor yang dapat menyebabkan terdapatnya mikroorganisme pada media adalah udara, temperatur dan kelembaban yang ada di lingkungan sekitar praktikum.
Ø  Untuk mencegah terkontaminasinya media oleh mikroorganisme, maka sebaiknya hal-hal yang perlu diperhatikan:
Ø  Mencuci tangan dan  rambut sebelum praktikum.
Ø  Menggunakan jas lab dan sarung tangan yang steril.
Ø  Sebelum dan sesudah praktikum meja kerja dan tangan disemprotkan alkohol 70%.
Ø  Menggunakan alat dan bahan yang sudah disterilkan.
Ø  Tidak banyak bercanda dan ngobrol saat praktikum berlangsung.
Ø  Menggunakan masker.
Ø  Bekerja didekat zona steril (pembakar spirtus). 
Ø  Pada percobaan agar miring mikroba terlihat lebih jelas dibandingkan dengan percobaan agar tegak, hal ini disebabkan karena fungsi agar miring adalah untuk mengamati jumlah mikroba, dalam jumlah yang banyak dan jelas. Sedangkan fungsi agar tegak adalah  untuk mengamati jumlah mikroba, dalam jumlah yang sedikit dan hanya terlihat penampang atas atau luarnya saja.


KESIMPULAN
                       
v  .Media adalah suatu substrat dimana mikroorganisme dapat tumbuh dan sesuai dengan lingkungan hidupnya.
v  Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil bahwa dari 15 pengamatan (cawan dan tabung yang berisi media yang sudah disterilkan)  yang terkontaminasi oleh mikroorganisme sebanyak 93.33%, sedangkan yang tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme sebanyak 6.67% (hanya 1 buah agar miring dengan  PDA didalamnya).
v  Untuk mencegah terkontaminasinya media oleh mikroorganisme, maka sebaiknya hal-hal yang perlu diperhatikan:
v  Mencuci tangan dan  rambut sebelum praktikum.
v  Menggunakan jas lab dan sarung tangan yang steril.
v  Sebelum dan sesudah praktikum meja kerja dan tangan disemprotkan alkohol 70%.
v  Menggunakan alat dan bahan yang sudah disterilkan.
v  Tidak banyak bercanda dan ngobrol saat praktikum berlangsung.
v  Menggunakan masker.
v  Bekerja didekat zona steril (pembakar spirtus).


































Jambi,
                                                                                     Praktikan
                                               


                                                                         POPPY LOUREN EVANI
                                                                                    NIM : 10056


PEMBIMBING PRAKTIKUM
                                      I                                                                                 II


            ( DJ. Simanungkalit, SP )                                                        ( Suyoso, AMAK )
                                  III                                                                                        IV


            ( A. Syarthibi, SKM )                                              ( Safruddin Lubis, AMAK )



































BAKTERIOLOGI  MAKANAN


No                               :      08
Hari / Tanggal             :     selasa, 15 mei 2012
Materi                          :
v  Isolasi dan  Identifikasi  Bakteri makanan
Tujuan             :
v  untuk mengetahui kehigienisan  makanan dan untuk mengetahui angka MPN Coliform dan MPN Coli.
v  Dasar Teori            :
v  Escherechia coli  sering dijadikan indikator  pencemaran air karena merupakan flora normal dalam usus dan dikeluarkan bersama tinja dan dikhawatirkan  tinja  tersebut mengandung bakteri patogen seperti : Salmonella typhi, Salmonella paratypi, Shigella sp, Vibrio colera .
Hari  I
Materi :
1.      Pengambilan sampel
2.      Pengolahan sampel
3.      Penanaman Sampel ( tes perkiraan )

Tujuan             :
1.      Untuk mengetahui cara pengambilan sampel
2.      Untuk mengetahui cara Pengolahan Sampel
3.      Untuk mengetahui kuman-kuman peragi laktosa

Peralatan         :

v  Lampu spirtus
v  Incubator
v  Spirtus
v  Mikroskop
v  Spidol
v  Pipet tetes
v  kapas
v  Thermometer
v  Pipet ukur 1 ml dan 10 ml
v  Glass ukur 100 ml steril
v  Erlemeyer steril
v  Becker glass
v  Timbangan
v  Kertas aluminiumvoil
v  Gunting
v  Tabung sekrup
v  Rak tabung
v  Korek api
v  Lumpang dan mortil


Reagensia        :
v  Alkohol 70 %

Media
v  Laktosa Brouth Single Streng  ( LB  I )
v  Laktosa Brouth dauble  Streng  ( LB  II )

Sampel            :
v  sozzis  ( sozzis  ayam goreng ) 

Prosedur          :
v  Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam pengambilan sampel
v  Mulut kemasan saoz yang akan dgunting  disinfektan dengan larutan alkohol 70 %
v  Setarakan timbangan yang akan digunakan
v  Timbang sozzis10 gram  dan masukkan kedalam lumpang serta digerus hingga halus
v  Sozzis yang telah  halus dimasukkkan kedalam erlemeyer yang berisi larutan pengencer 
v  Aduk hingga merata  sampai semua larutan menjadi homogen
v  Pipet serta tuang kedalam gelas ukur sesuai dengan  ketentuan sampel yang akan digunakan, tanam sampel sozzis  kedalam media LB
v  Inkubasi selama 1x 24 jam

Keterangan      :
v  Nama Sampel                    =   sozzis ( sosis ayam goreng )
v  Segel                                 =  masih tertutup
v  Tanggal pengambilan         = 14 mei 2012
v  Tanggal kadaluarsa           :=  januari 2013
v  Tempat pengambilan           = mts aliyah , simpang pulai
v  Waktu pengambilan            =  pukul 10.15 wib

















TEST PERKIRAAN
v  Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan
v  Siapkan  tabung yang telah ada durhamnya dengan komposisi larutan yaitu :

5 x 10 ml                                             1 x 1 ml                                   1 x 0,1 ml






LB II                                       LB I                                           LB I


v  Masukkan sampel sesuai dengan tabung (5 x 10) berarti masing-masing  tabung laktosa brouth diisi dengan 10 ml sampel, (1 x 1) berarti tabung laktosa brouth diisi dengan 1 ml sampel,  (1 x 0,1) berarti tabung laktosa brouth diisi dengan 0,1 ml sampel. 
v  Media LB  di inkubasi dengan suhu 370 C selama  1 x 24 jam









HARI  II

Materi              :
1.       Pembacaan hasil pada media  LB (tes perkiraan)
2.      Penanaman pada media BGLB

Tujuan             :
1.      Untuk mencari kuman peragi laktosa
2.      untuk membedakan baketri Coliform dan Escherechia Coli

HASIL  TES PERKIRAAN
            5 x 10 ml                                             1 x 1 ml                                   1 x 0,1 ml




        -      -      -      -     -                                      -                                                   -

Interpretasi hasil :       
Tidak tumbuh              = medianya jernih
Tumbuh  (- gas)           = keruh
Tumbuh  ( + gas )        = keruh dan tidak ada gas pada tabung durham 
Setelah dilakukan inkubasi selama 1 x 24 jam hasilnya  semua media LB  ( - ) negatif, maka inkubasi tidak dilanjutkan 















DIAGNOSA
v  Pada penanaman media LB  didapatkan  hasil  negatif,
v  karena negatif maka tidak dilanjutkan penanaman  pada media BGLB
KESIMPULAN
            Sampel Sozzis  memenuhi syarat-syarat BPOM  RI secara mikrobiologi, Sosis Ayam : BPOM RI MD 215928001197,dengan angka APM  coliform  =  <  3 / gr. 

                                                                       
                                                                       
                                                                                                Jambi,18 mei 2012
                                                                                                         Praktikan
                                               



                                                                                                POPPY LOUREN EVANI
                                                                                                NIM : 10056


PEMBIMBING PRAKTIKUM

                                      I                                                                                 II





            ( DJ. Simanungkalit, SP )                                                      ( Suyoso, AMAK )

                                  III                                                                                        IV





            ( A. Syarthibi, SKM )                                              ( Safruddin Lubis, AMAK )




Selasa, 15 Mei 2012

antiboDy

ANTIBODI DAN PENGHASILANNYA:

Antibodi merupakan molekul-molekul dalam plasma yang berfungsi mengcam dan bergabung dengan antigen asing. Antibodi tergolong ke dalam kumpulan protein yang dipanggil imunoglobulin (Ig). Terdapat lima kelas imunoglobulin berdasarkan perbezaan struktur, iaitu IgG, IgM, IgA, IgD dan IgE. Setiap satu kelas mempunyai ciri-ciri biologi dan fungsi berbeza. Dalam bidang perubatan dan penyelidikan antibodi monoklon banyak digunakan. Antibodi monoklon adalah tulen, homogen, dan dihasilkan oleh sel hibrid yang dibentuk dari perlakuran sel B dan sel tumor dalam kultur. Antibodi monoklon boleh digunakan untuk diagnosis dan terapi, seperti dalam peneutralan toksin dalam peredaran atau penyasaran (targetting) dadah dan radioisotop kepada sel kanser.
Antibodi membanteras infeksi melalui berbagai cara. Organisma ataupun toksin-toksin yang dihasilkan boleh dineutralkan oleh antibodi yang menghalang bahan-bahan tersebut dari bergabung kepada sel. Antibodi juga membantu sel-sel fagosit (makrofaj, neutrofil) menelan bakteria atau menyebabkan lisis organisma dan sel terinfeksi. Ini terhasil dari kerjasama antibodi dengan pelengkap atau sel NK.
IgG merupakan antibodi yang paling banyak, terdapat terutamanya dalam serum, serta cecair dalam badan. IgG adalah benteng pertahanan penting terhadap bakteria, virus atau kulat yang telah memasukki badan. Dalam manusia, IgG merupakan satu-satunya imunoglobulin yang boleh melintas plasenta, oleh itu penting untuk pertahanan bayi baru lahir terhadap infeksi bakteria dan virus.
IgM ialah imunoglobulin bersaiz paling besar dan terdiri dari lima unit yang digabungkan. IgM ialah kelas antibodi yang dihasilkan paling awal dalam gerak balas primer dan ia merupakan pengaktif sistem pelengkap yang efisyen. Sistem pelengkap terdiri dari satu set protein plasma yang apabila diaktifkan dalam urutan yang betul membentuk laluan (lobang) pada membran sel sasaran dan membawa kepada kematian sel. IgM dan pelengkap amat efisyen memusnahkan bakteria Gram negatif atau parasit protozoa yang telah memasukki saluran darah. Pelengkap juga menyebabkan gerak balas keradangan apabila diaktifkan.
IgA merupakan benteng terhadap organisma patogen dalam usus, saluran pernafasan dan saluran urogenital. Sel B penghasil antibodi yang terdapat di kawasan-kawasan ini menghasilkan molekul IgA dimer, yang diangkut melintasi selaput epitelium dan dirembeskan pada permukaan mukosa. IgA rembesan menghalang pergabungan bakteria dan virus kepada epitelium, dan oleh yang demikian mencegah penyakit setempat atau patogen dari merebak ke bahagian tubuh yang lain. Keseluruhannya, IgA adalah antibodi yang banyak di dalam tubuh.
IgE boleh mencetuskan tindak balas alergi cepat seperti asma (lelah). Antibodi ini bergabung dengan permukaan sel-sel mast yang terdapat berhampiran saluran darah. Sel-sel ini mengandungi granul-granul yang terdiri dari histamina dan bahantara keradangan lain dan bahan-bahan ini dibebaskan dengan cepat apabila partikel-partikel seperti debunga atau bulu haiwan bergabung dengan molekul IgE yang tergabung pada permukaan sel mast. Histamina dan bahan-bahan lain yang dibebaskan oleh sel mast menyebabkan gejala-gejala yang dikaitkan dengan tindak balas alergi.
IgD beroperasi bersama IgM sebagai reseptor untuk antigen pada permukaan sel B. Amat sedikit IgD dirembeskan.
Input dari sel T penolong lazimnya diperlukan untuk sel B berkembang menjadi sel plasma penghasil antibodi. Sel T penolong menghasilkan protein-protein larut, atau sitokina, yang dipanggil interleukin (IL) 4, 5 dan 6 yang menyebabkan sel B membahagi dan membeza selepas bergabung dengan antigen. Keperluan sel T penolong menerangkan mengapa penghasilan antibodi berkurangan dalam penyakit AIDS, di mana sel T penolong dimusnahkan oleh infeksi HIV.

KEIMUNAN PERANTARAAN SEL (KPS):

Gerak balas kerimunan perantaraan sel (KPS) dikawal oleh sel T, yang menghasilkan sitokina untuk mengaktifkan limfosit, makrofaj, granulosit dan sel-sel sum-sum tulang; sel T juga melisiskan secara terus sel-sel terinfeksi atau tak normal. Sel T memainkan beberapa fungsi dalam KPS. Salah satu fungsi utamanya ialah pertahanan terhadap mikroorganisma yang memandiri dan berganda dalam sel, termasuk bakteria intrasel, kulat dan virus. Mekanisme-mekanisme yang terlibat termasuk lisis sel terinfeksi virus melalui persentuhan terus dengan sel T sitotoksik, dan pengaktifan makrofaj melalui penghasilan interferon oleh sel T penolong. Sel T juga meningkatkan keimunan terhadap parasit dengan mengaruh penghasilan sel mast, IgE dan eosinofil dengan menghasilkan 1L-3 dan 1L-5 serta membantu penghasilan antibodi secara umum.
Sel T memperantarakan tindak balas kehiperpekaan tertangguh, seperti yang terhasil semasa ujian kulit untuk mengesan keimunan terhadap penyakit-penyakit jangkitan bakteria, kulat atau virus, umpamanya ujian tuberkulin dan mumps. Tindak balas-tindak balas seperti ini memainkan peranan penting dalam pembentukan lesi-lesi patologi dalam penyakit-penyakit seperti tuberkulosis dan mumps, serta terlibat dalam kepekaan sentuh (contact dermatitis).
KPS juga menyebabkan penolakan cedung (graf) tisu. Antigen-antigen utama yang dicam pada tisu dalam penolakan cedung ialah antigen-antigen MHC. Sel T juga bertanggungjawab memusnahkan sesetengah sel-sel tumor. Satu lagi jenis sel yang terlibat dalam KPS ialah sel pemusnah teraktif limfokin (lymphokine-activated killer cells; LAK cells) yang juga berupaya memusnahkan sel-sel tumor. Sel-sel LAK diaruh untuk memusnahkan sel-sel tumor setelah diaktifkan oleh 1L-2 yang dihasilkan oleh sel T penolong.

KEIMUNAN CENDERUNG:

Apabila kulit diambil dari seorang penderma dan dicedungkan kepada penerima, tubuh lazimnya akan menolak cedung (graf) asing. Dalam masa beberapa hari cedung tersebut menjadi merah, kemudian gelap dan akhirnya gugur. Sebaliknya, jika kulit dicedungkan dari satu bahagian ke bahagian lain pada tubuh seseorang, atau dari satu kembar seiras kepada kembarnya, cedung itu diterima. Penolakan cedung ialah suatu gerak balas imun. Ia berlaku kerana wujud perbezaan antigen antara tisu individu berlainan. Antigen-antigen cedung yang paling kuat ialah molekul-molekul kompleks kehistoserasian utama. Kebarangkalian individual tak berkaitan seiras pada MHC dan dengan itu menerima cedung secara spontan ialah 1 dalam 400. Tambahan lagi, terdapat antigen-antigen kehistoserasian minor yang boleh menyebabkan tindak balas penolakan yang lemah.
Oleh itu, kejayaan pencedungan bergantung kepada keupayaan untuk mencegah penolakan organ. Pesakit-pesakit diberikan dadah yang bertindak menghalang respons sel T yang terlibat dalam penolakan cedung. Pada masa kini gabungan terapi yang piawai terdiri dari siklosporin, yang menghalang pengaktifan sel T melalui perencatan penghasilan 1L-2 dan azathioprine, yang menghalang pertumbuhan sel lalu mengurangkan proliferasi sel T dan prednison, yang merencat sintesis sitokina. Dadah FK506 kini sedang dicuba terutamanya dalam cedung hati, kerana ia kurang toksik berbanding siklosporin.
Satu risiko besar pemindahan tisu yang mengandungi limfosit ialah tindak balas cedung-melawan-perumah (graf-versus-host; GVH). Dalam penyakit GVH, sel T sitotoksik berpindah masuk ke dalam tisu hos (penerima) dan memusnahkan sel. Sel T dari cedung hanya boleh menyerang hos jika sistem imun hos tidak sempurna, sama ada disebabkan oleh penyakit atau dadah-dadah penekan keimunan yang diberikan kepada hos untuk mencegah penolakan. GVH merupakan suatu masalah besar apabila sum-sum tulang dipindahkan kepada penerima yang tidak imunokompeten. Limfosit yang dipindahkan menyerang semua tisu hos, dan jika tidak dirawat dengan berkesan, akan merosakkan organ-organ penting seperti jantung dan ginjal.


IMUNOLOGI TUMOR
ANTIGEN SEL DALAM TUMOR

Dalam penyelidikan terhadap tumor-tumor yang disebabkan oleh virus dan zat karsinogen kimia pada binatang percobaan, telah dapat diambil suatu kesimpulan yang jelas kalau sel tumor tersebut mengandung suatu antigen yang asing bagi tubuhnya sendiri dengan TSTA. Selain antigen pada permukaan sel ini, sebenarnya ada pula antigen baru. yang letaknya lebih kedalam sel, yaitu pada nukleusnya; akan tetapi ditinjau dari sudut imunologi, antigen-antigen tersebut lebih sukar untuk dikenal.
Pada manusia, tumor-tumor yang timbulnya disebabkan oleh virus, baru ditemukan pada penyakit limfoma Burkit, oleh karena dari tumor tersebut pernah diisolasi suatu virus, yaitu Reovirus tipe 3. Bila virus ini selanjutnya diinokulasi pada tikus-tikus percobaan, maka setelah periode laten dicapai akan timbul suatu tumor yang ciri-cirinya serupa dengan tumor pada manusia tadi. Penyelidikan selanjutnya telah membuktikan pula, kalau virus tersebut termasuk golongan virus DNA. Dengan adanya bukti-bukti secara eksperimen pada binatang, yaitu adanya anti-gen baru serta asing pada permukaan sel tumor yang disebabkan oleh suatu virus, dan adanya penemuan yang menyokong kalau virus dapat juga menyebabkan tumor pada manusia, maka besar kemungkinannya kalau pertumbuhan tumor, baik pada binatang maupun pada manusia, dapat dikontrol secara imunologik

REAKSI IMUNOLOGI:
Oleh karena sel-sel tumor mempunyai antigen baru yang oleh mesin imunologik dianggap bukan sebagai "self" antigen, maka lambat laun akan terjadi suatu proses terbentuknya suatu reaksi imun terhadapnya.
Pada prinsipnya reaksi imun itu dapat dibagi atas dua bagian, yaitu pertama, dengan jalan terbentuk-nya suatu molekul imunoglobulin yang mempunyai daya antibodi yang spesifik terhadap TSTA, dan kedua, dengan jalan terbentuknya sel-sel limfosit yang sensitif terhadap antigen itu. Dengan lain per-kataan, didalam tubuh dapat terjadi dua macam reaksi imunologik, yang satu dibawakan oleh system humoral dan yang lainnya dibawakan oleh system sel.Agar respons imun dapat dimulai, maka antigen harus dilepaskan terlebih dahulu oleh sel-sel tumor dan dengan aliran darah atau limfe, akhirnya sampai kedalam limfonodus atau limpa. Didalam organ-organ tersebut, antigen itu akan diproses oleh sel-sel makrofag agar selanjutnya dapat bereaksi dengan sel-sel limfosit.
Sel ini, yang umumnya berada dibawah pengaruh sumsum tulang, dikenal sebagai sel limfosit-B (dari "Bone Marrow"), dan setelah mengadakan kontak dengan antigen tersebut lambat laun sel ini akan berkembang dan mengalami proses diferensiasi. Sel limfosit tersebut akhirnyaakan menjadi sel yang matang dan siap untuk mensintesa molekul imunoglobulin, yaitu suatu molekul yang mempunyai daya antibodi yang spesifik; dalam hal ini, spesifik terhadap antigen sel tumor tadi.
Antibodi-antibodi yang dibentuk ternyata dapat mempunyai beberapa aktifitas dan dari sekian banyak antibodi, yang mempunyai hubungan dengan pasang-surutnya pertumbuhan tumor hanya ada imunologik tampaknya menjadi lumpuh.
Perubahan-perubahan pada respons imun atau keadaan-keadaan yang mengakibatkan lumpuhnya reaksi imunologik sehingga menyebabkan suatu tumor dapat tumbuh tanpa mendapat suatu gangguan, dapat disebabkan oleh beberapa faktor atau hal, yaitu:
1. UmurUmur sangat mempengaruhi kematangan system imun respons didalam tubuh. Pada umur yang muda hingga dewasa, kapasitas imunitas akan mencapai puncaknya dan lambat laun akan menurun terutama pada usia yang agak lanjut.
2. Genetika Bila ada kelainan-kelainan genetika, terutama yang menyerang mesin imunologik dan komponen-komponen imun sel dan humoral, dapat mengakibatkan fungsi imunologik yang abnormal pula.
3. Defisiensi imunologik Terjadinya kekurangan pada faktor-faktor imunologik, sehingga reaksi kekebalan tidak sempurna. Pada keadaan-keadaan seperti hipogama-globulinemia, ataksi-telangiektasia dan lain-lain, akan ditemukan frekwensi tumor yang lebih tinggi daripada orang-orang yang normal.
4. lmunosupresif Bila sistem imunologik tertekan, umpamanya disebabkan oleh obat-obatan (azathioprine, 6-mercaptopurine dll), radiasi atau serum anti-limfosit, maka akan mengakibatkan suatu kelainan dalam daya tangkap terhadap rangsangan antigen.
5. ToleransiAntigen-antigen yang spesifik seperti pada per-mukaan sel tumor, kadang-kadang sangat lemah,sehingga tidak cukup untuk dapat merangsang sistem respons imun.Antigen-antigen yang lemah ini terutama ditemukan pada tumor-tumor yang disebabkan oleh virus-virus yang mem-punyai periode laten yang panjang, sedangkan virus-virus dengan periode laten yang pendek, keantigenannya kuat sekali.

TERAPI IMUNOLOGI:

sebagai anti tumor Hingga sekarang didalam klinik telah ditemukan beberapa tumor yang dapat menghilang atau mengecil secara spontan tanpa diberi obat atau dioperasi. Halini telah terjadi, umpamanya pada tumor-tumorneuroblastoma, melanoma, adenokarsinoma, limfoma dan lain-lain. Mekanisme daripada daya pertahanantubuh diduga memegang peranan penting dalam proses tersebut.
Oleh karena pengalaman-pengalaman di klinik seperti itu dan juga bukti-bukti pada binatang percobaan, maka dipandang dari sudut ilmu kedokteran pencegahan, mungkin sekali dikemudian hari para ahli dapat membuat suatu vaksintumor.Umpamanya imunisasi secara aktif dapat dilakukan dengan memberikan kumpulan-kumpulan daripada antigen yang spesifik tumor, sehingga selang beberapa waktu akan timbul suatu reaksi imunologik yang sewaktu-waktu siap untuk menyerang sel tumor yang sedang tumbuh. Disamping ini, maka kita dapat juga memberikan serum yang sudah mengandung antibodi yang spesifik terhadap sel tumor. Sayangnya untuk dapat melakukan kedua prosedur ini, imunisasiaktif dan pasif, masih terlalu banyak rintangannya.
Yang pertama,kita masih dihadapkan kepada persoalan-persoalan dasar yang penting, yaitu antaralain, berapa dosis yang harus diberikan, bagaimana cara pemberian antigen, dalam bentuk apa anti gen tersebut diberikan, bagaimana cara mendapatkan anti-gen yang murni dan lain-lain, yang kesemuanya memegang peranan dan tidak dapat diabaikan begitu saja bila kita hendak membentuk antibodi yang mempunyai sifat-sifat sitotoksis yang spesifik terhadap sel tumor. Yang kedua, yaitu kesulitan pada imunisasi secara pasif ialah pemberian protein asing yang sering menyebabkan reaksi hipersensitif; selain ini,kita juga harus mempersiapkan berbagai macam antibodi dengan spesifisitas yang tertentu.Oleh karena daya penolakan terhadap tumbuhnya tumor lebih bermakna pada reaksi imun yang dibawakan oleh sistem sel, maka para sarjana telah memikir-kan pula kemungkinan-kemungkinannya untuk membuat dan mempergunakan sel-sel limfosit yang sudah peka terhadap sel tumor, sehingga dapat diimunisasikan secara pasif kedalam tubuh penderita.
Pada binatang percobaan, hal ini telah dapat dilakukan dan hasilnya sangat memuaskan. Untuk dapat dilakukan pada manusia, agaknya masih memerlukan hasil-hasil penyelidikan yang lebih teliti lagi. Disamping itu untuk mendapatkan sel-sel Iimfosit yang sudah sensitive spesifik terhadap sel tumor tertentu sangat sulit oleh karena sulitnya mendapatkan penderita dengan tumor-tumor tertentu serta dapat dijadikan donor.

ALERGI OBAT

Kadang-kadang dalam pengobatan terjadi hal-hal yang membingungkan.Misalnya seorang datang dengan demam dan nyeri waktu menelan makanan. Ternyata ia menderita tonsihtis akut. Maka pengobatannya adalah antibiotik ampicillin bersama dengan suatu analgetik-antipiretik. Lima hari kemudian ia kembali, demamnya masih tetap tinggi. Tetapi tanda-tanda peradangan tonsil sudah tidak ada lagi. Apakah demamnya ini karena kuman yang resisten terhadap ampicillin, ataukah ada penyakit lainnya disamping tonsilitis, atau Satu penyebab yang harus dipikirkan adalah drug fever, yaitu demam yang ditimbulkan karena reaksi alergik terhadap obat yang diberikan. Diperkirakan kejadian alergi obat adalah 2% dari pemakaian obat-obatan atau 15-20% dari kejadian efek samping pemakaian obat-obatan.
Termasuk dalam obat yang mudah membentuk ikatan kovalen dengan komponen dalam darah atau jaringan adalah golongan alkylator (misalnya carbon te-trachloride, chloramphenicol , nitrogen mustards, beberapa obat anti-neoplas-tik), golongan acylator (misalnya struktur beta laktam : penicillin, phthalimi-des, beberapa zat karsinogenik dan tera-togenik) dan obat-obat yang bersifat alkalis (misalnya chloroquine, kanamy-cin, neomycin, polymyxin, streptomy-cin). Efek teratogenik dari beberapa obat dapat diterangkan dengan terbentuknya ikatan antara nukleoprotein dari komponen genetik dengan obat, misalnya suatu acylator, sehingga fungsi genetik tsb. akan terganggu

MEKANISME ALERGI OBAT:

karena berat molekulnya yang rendah (dibawah 2000) biasanya obat itusendiri tidak mempunyai kemampuan antigenik (immunogenik). Mereka bertindak sebagai hapten,dan sesudah membentuk ikatan kovalen dengan suatu protein, peptide atau karbohidrat dijaringan atau darah, akan merangsang pembentukan antibodi atau sel limfosit yang sangat spesifik untuk komplek antigen tsb. Antibodi pada manusia terdiri dari 5 jenis golongan protein yaitu Immunoglobulin A, D, E, G dan M;dihasilkan oleh sel-sel plasma (jaringanThymic-Independent). Sedangkan sel-sel limfosit (jaringan Thymic--Depen-dent) membentuk apa yang disebut kekebalan seluler (cell--mediated--immu-nity), penyebab dari delayed hypersen-sitivity. Maka akan timbul reaksi alergik bila obat yang sama diberikan kembali(gambar I)

MANIFESTASI KLINIK

Reaksi alergik yang segera (imme-diate), terjadi dalam beberapa menit dan ditandai dengan urtikaria, hipotensidan shok. Bila reaksi itu membahayakan jiwa maka disebut reaksi anafilaktik.Reaksi ini terutama ditimbulkan oleh antibodi IgE. Reaksi yang cepat (acce-lerated) timbul dari 1 sampai 72 jam sesudah pernberian obat dan kebanyakan bermanifestasi sebagai urtikaria. Kadang-kadang berupa rash morbilliform atau edema larynx. Reaksi yang lambat(late) timbul lebih dari 3 hari dan berupa bermacam-macam erupsi kulit, serumsickness dan drug fever .
Diperkirakan reaksi jenis cepat dan lambat ini ditimbulkan oleh antibodi IgG, tetapi beberapa reaksi hemolitik dan exanthem dihubungkan dengan antibodi IgM.Drug fever hampir menyerupai serum sickness , ditandai dengan peninggian suhu tubuh yang timbul selama suatu pengobatan. Diagnosa keadaan ini pada umumnya sukar sekali, karena biasanya obat penyebab adalah suatu anti-biotik yang digunakan untuk pengobatan infeksi yang disertai dengan demam.Drug fever dapat disertai dengan suatu arter itis, yaitu peradangan multipel pada pembuluh-pembuluh darah kecil. Bila dibiarkan dapat menimbulkan kerusakan yang berat

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALERGI OBATI:

1.Usia : walaupun alergi obat dapat terjadi pada semua golongan umur, ia lebih jarang timbul pada kanak-kanak.Mungkin ini disebabkan oleh perkembangan sistim immunologik yang belum sempurna atau karena lebih seringnya orang dewasa berkontak dengan bahan antigenik.
2. Cara pemakaian obat : pemakaian topikal memberikan kemungkinan paling besar untuk menimbulkan keadaan hipersensitip (sensitisasi),pemakaian oral paling kecil. Sedangkan parentera reaksi alergik. Lebih sering suatu obat digunakan,lebih besar kemungkinan timbulnya reaksi alergik pada penderita yang peka. Perlu dicatat bahwa alergi obat dapat terjadi pada orang yang belum pernah mendapat obat tsb. Misalnya alergi penicillin telah terjadi pada orang yang menggunakannya untuk pertama kalinya. Diperkirakan bahwa sejumlah kecil penicillin yang berada dalam makanan, susu, dan alam itulah yang menimbulkan sensitisasi.
3. Dosis : pemberian obat yang inter-mitten dan dosis yang tinggi akan lebih sering menimbulkan sensitisasi. Tetapi sesudah waktu induksi, dosis yang sangat kecilpun sudah dapat menimbulkan.

PENGOBATAN

Seperti pada penyakit immunologiklainnya, pengobatan alergi obat adalah dengan menjauhkan/mengeluarkan obat tsb. Pada reaksi anafilaktik, epinephrine merupakan drug of choice . Untuk alergi obat jenis lainnya, dapat digunakan pengobatan simptomatik dengan antihis-tamin dan kortikosteroid.

PERKEMBANGAN BARU DI BIDANG IMUNOLOGI
PENGENDALIAN FERTILITASI

Semakin luas pemakaian berbagai metode keluarga berencana, makin sering pula dilaporkan komplikasi-komplikasi dari cara-cara tersebut;I.U.Ddapat menyebabkan perdarahan dan rasa sakit ,dapat dikeluarkan secara spontan oleh rahim dan kadang-kadang bahkan dapat menembus rahim kerongga perut ; pil kontrasepsi yang berupa steroid dapat mengubah/mengacau metabolisme lemak,karbohidrat, mineral vitamin, disamping mempengaruhi mekanisme pembekuan darah. ; abortuspada awal kehamilan, meskipun disebut dengan namaM.R.(menstrual regulation), tidak dapatditerima oleh beberapa kalangan agama, disamping itu komplikasi juga tetap ada. ; preparat kontrasepsi yang long-acting masih belum memuaskan ; sedangkan pil kontrasepsi untuk pria, meski pun dalam penelitian pendahuluan memberi harapan baik, masih belum dapat diedarkan.Ditengah-tengah berbagai cara tersebut, kini muncul cara pendekatan yang baru, yaitu dari bidangi munologi.
Scjauh ini, pendekatan imunologik yang telah dilakukan dan memberi harapan baik ialah imunisasi dengan hormon-hormon plasenta, untuk menghalangi implantasi zygote pada rahim. Penelitian pendahuluan menunjukkan bahwa preparatH.C.G (HUMAN CHORIONIC GONADOTROPHIN) yang telah dikonjugasikan mampu menimbulkan respons imun pada wanita-wanita. Respons tersebut ternyata tidak hanya menghambat H.C.Gs aja, tetapi juga menghambatL.H. (LUTEINISINGHORMONE) sehingga siklus haid kemudian terhenti.Telah diketahui bahwaH.C.G.terdiri dari beberapa sub-unit. Ini membuka kemungkinan baru,yaitu penggunaan sub-unit tersebut, misalnya sub-unit ,untuk mengimunisasi tubuh terhadap H.C.G.secara spesifik tanpa mengganggu hormon-hormon lain. Dengan demikian diharapkan efek samping makin sedikit.Diantara honnon-hormon hipofisa, hormon SOMATO-MAMMOTROPHINs edang dalam penyelidikan. Pada tikus, kelinci dan kera baboon, zat-anti terhadap hormon ini ternyata dapat menyebabkan berakhirnya kehamilan. Kesulitan yang mungkin timbul ialah adanya reaksi silang (cross-reaction) antara zat-anti diatas denganG.H. (GROWTH HORMONE). ;akan tetapi seperti halnya denganH.C.Gdiatas, reaksi silang tersebut mungkin dapat dihindari dengan menggunakan fragmen atau sub-unit honnon Somato-Mammotrophin untuk imunisasi.
Karena kini telah ditemukan berbagai cara mensintesa polipeptida, fragmen atau sub-unit hormon sebenarnya dapat diproduksi secara besar-besaran dengan harga yang agak ringan. Masih ada lagi cara lain untuk pengendalian fertilitas dengan hormon dari otak kita, yaitu imunisasi terhadapL.H-R.H (LUTEINISING HORMONE RELEASING HORMONE). Hormon ini juga merupakan polipeptida, terdiri dari 10 macam asam amino, diproduksi dalam hipotalamus.
Tugasnya mengendalikan sintesa pelepasan hormon-hormon gonado trophin dari hipofisa.L.H-R.H.ini tampaknya tidak species-specific jadi mungkin sama untuk spesies yang berdekatan, dan kini hormon ini telah dapat dibuat dalam bentuk murni secara sintetik. Teoritis imunisasi terhadapL.H-R.H.ini lebih baik dipergunakan pada kaum pria sebab pada wanita mungkin masih sulit diterima karena ada gangguan haid. Cara imunisasi ini secara tak langsung mempengaruhi sperma togenesis pada pria, karena hambatan pada L.H.-R.H. akan diikuti dengan hambatan pada L.H.PadahalL.H.ini berperanan dalam spermatogenesis.Imunisasi terhadap antigen telur atau trophoblast (plasenta dini) merupakan kemungkinan lain lagi ; ekstrak dari zona pellucida telur (bagian terluar dari telur) pada binatang-binatang percobaan dapat menghindarkan pembuahan,sedang zat-anti terhadap trophoblast telah berhasil mengakhiri kehamilan pada kelinci dan kera.
Antigen dari plasenta manusia kini sedang dalam penelitian, dan untuk ini belum dipergunakan manusia, tetapi kera rhesus sebagai binatang percobaannya. Beberapa penyelidikan lain mengungkapkan kemungkinan imunisasi dengan mempergunakan konstituen sperma. Dalam beberapa spesies mamalia, termasuk manusia, sperma mengandung isoenzim tertentu dari lactate dehydrogenase, LDH-X .Zat-anti terhadap enzim ini dapat merendahkan kesuburan binatang percobaan, baik jantan maupun betina. Imunisasi ter-hadap suatu proteinase yaitu hyaluronidase dari akrosom sperma juga merupakan bidang penelitian yang menarik sekali.Pengendalian fertilitas dengan cara imunologik ini merupakan semacam imunisasi aktip, oleh sebab itu bila imunisasi berhasil, akan didapatkan penurunan fertilitas yang relatip permanen, atau bahkan suatu sterilitas. Seperti halnya dengan imunisasi lain, ada juga kemungkinan bahwa lama kelamaan kadar zat-anti didalam tubuh makin berkurang. Bila demikian halnya, maka akan diperlukan booster pada waktu-waktu tertentu

PENDEKATAN IMUNOLOGIK PADA PENGOBATAN KANKER

Menunjukkan bahwa pemberian virus leukemia yang telah diolah terlebih dahulu dengan formalin dapat mencegah penyakit leu-kemia pada tikus-tikus percobaan. Sejak itu berbagai penelitian pada binatang mengungkapkan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa vaksin dapat mencegah beberapa jenis kanker pada binatang, menunjukkan bahwa vaksin hidup yang telah dilemahkan dapat mencegah penyakit MAREK pada anak-anak ayam; vaksin ini sekararg telah beredar luas diseluruh dunia. Kemudian vaksin untuk mencegah leukemia pada kucing, yaitu Feline Leucemia Virus bahwa vaksin Herpesvirus saimiri dapat mencegah malignant lymphoma pada kera.
Penemuan-penemuan diatas telah membuka suatu kemungkinan baru yang membawa banyak harapan, yaitu pencegahan kanker pada manusia dengan memakai vaksin : meskipun harus selalu diingat bahwa dalam percobaan terhadap manusia akan dijumpai banyak bahaya.Dalam masa dekat ini, tampaknya tujuan praktis ialah pengobatan dan bukan pencegahan kanker. Berbagai pendekatan imunologik telah dicoba, antara lain dengan memadukan imuno terapi dan khemoterapi, dimana zat-anti (antibodi) terhadap tumor diikatkan pada obat-obat sitotoksik untuk di manfaatkan sebagai pembawa ( carrier ) obat sitotoksik tersebut.Dengan demikian, diharapkan bahwa efek toksik obat terhadap tumor akan diperbesar sedangkan efek toksik sistem makin kecil karena obat akan berkumpul pada tumor tersebut. Dengan cara ini,berhasil menekan pertumbuhan limfoma EL-4 pada tikus-tikus dengan memberikan chlorambucil yang diikatkan pada antibodi-anti tumor.Cara lain lagi ialah meningkatkan daya imunogenik tumor,dengan harapan bahwa sistem imunologik tubuh penderita takan berubah kearah yang menguntungkan tubuh.Jelas bahwa tubuh membuat suatu respons terhadap tumor didalam tubuhnya, tetapi alasan-alasan mengapa mekanisme imunologik tersebut gagal melenyapkan tumor masih belumjelas.
Kurang efektipnya respons tubuh dapat disebabkan oleh karena berbagai mekanisme penghambat misalnya karena ke-ebihan antigen bergabung dengan zat-anti sitolitik sehingga zat-anti tersebut tidak dapat bekerja terhadap tumor dsb.Berbagai cara telah dicoba untuk meningkatkan respons imunologik tubuh terhadap tumor, antara lain dengan memakai adjuvan.Penelitian dengan memakai vaksin BCG telah memberi hasil-hasil positip yang telah banyak dibicarakan diberbagai majalah kedokteran. Akhir-akhir ini vaksin dari c oR Y N E-BACTERIUM PARVUMmulai banyak mendapat perhatian.
Sebagai adjuvan, BCG menunjukkan beberapa kelemahan,yaitu BCGa adalah vaksin hidup, khasiatnya tergantung dari jumlah organisme yang hidup oleh karena itu sering tidak stabil, lebih-lebih vaksin basah (wet) yang banyak dipakai dalam penelitian kanker tersebut. Vaksin beku yang dikeringkan ( freeze-dried ) yang banyak dipakai pada vaksinasi terhadap TBC memang efektip, stabil dan reproducible . Akan tetapi tampaknya vaksin kering-beku ini kurang efektip dibandingkan dengan vaksin basah.Penggunaan C. parvumsebagai adjuvan dirintis olehH A L-PERN (12)pada tahun 1963.
Vaksin ini jelas bermanfaat mencegah beberapa jenis tumor pada binatang. 3 tahun yll.ADLAM SCOTT(13) telah berhasil membuat sediaan vaksin mati dr.C.parvum yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan BCG, yakni : berupa vaksin mati, jadi mudah di standarisasikan dan dalam dosis yang efektip umumnya dapat diterima dengan baik oleh manusia dan binatang.Pada pemberian IV atau intraperitoneal pada tikus, vaksintersebut merangsang pembentukan makrofag dalam jumlah besar, diikuti dengan pertambahan berat jaringan hati, limpadan paru-paru. Ada kemungkinan bahwa makrofag tersebut merupakan mediator dari khasiat anti-tumor C.parvum.Dalam percobaan lain,ScoTT(14) menyuntikkan mastositoma pada telapak kaki tikus-tikus.
Biasanya tumor ini akan membunuh tikus tersebut dalam 27hari. Dengan menyuntik kan C. parvumsecara IV 2hari setelah implantasi tumor, diperoleh hasil bahwa efek anti-tumor tersebut naik sebanding dengan dosis,sampai setinggi dosis maksimum yang masih dapat diterimanya itu 750ug. Didalam salah satu percobaan, waktu hidup rata-rata meningkat dari 27hari menjadi 49 hari. Dosis tunggal ternyata sama efektipnya dengan dosis berganda. Pada penelitian lanjutan, dilaporkan bahwa penyuntik kan C parvumintra tumor memberi hasil yang lebih baik lagi. Dosis yang dipakai hanya 1/10 dosis IV, tetapi masih mampu memberi perlindungan meskipun disuntikkan 12hari setelah implantasi tumor. Waktu hidup tikus-tikus tersebut juga makin lama,44% dari tikus tersebut bahkan berhasil hidup terus, dan tikus yang hidup itu ternyata kemudian kebal terhadap implantasi tumor yang sama pada kaki lainnya.Hasil-hasil diatas menunjukkan bahwaC parvum mungkinlebih berkhasiat bila diberikan intra-tumor, akan tetapi pemberian 1V mungkin lebih bermanfaat terhadap metastasis.Vaksin lain yang kini sedang dalam percobaan ialah virusvaccinia (cacar lembu) yang biasa dipakai dalam pencacaran.
Sebagai mana halnya dengan BCG,vaksin ini banyak dicoba pada melanoma,tetapi hasil-hasil yang diperoleh masih variabel.Untuk meningkatkan cell-mediated immunity , sedang dipelajari juga suatu obat anthelmintika, yaitu LEVAMISOLE(L-tetramisole). Cara kerja obat ini masih belum diketahui.Dalam percobaan pendahuluan obat ini berhasil melindungi tikus-tikus dari kematian akibat pemberian Brucella dalam dosis lethal. Demikian juga terhadap Staphyllococcus. Karena diperkirakan bahwa obat ini meningkatkan kekebalan seluler, maka telah dicoba pengaruhnya terhadap tumor padabinatang. Hasil-hasil pendahuluan memberikan harapan baik.

ATHEROSCLEROSlS DAN IMUNOLOGI.

Meskipun atherosclerosis mungkin disebabkan oleh banyak faktor, diit, terutama lemak jenuh, dianggap oleh banyak orang sebagai faktor utamanya. Kini, secara mengejutkan diajukan pendapat lain oleh DAVIESdkk (16) danMATHEWSdkk (17). Mereka mengemukakan bahwa kompleks imun dalam sirkulasi darahlah yang penting dalam patogenesis penyakit tersebut.Pendapat ini didukung oleh penelitian-penelitian terdahulu dimana lesi-lesi atherosclerosis lebih banyak didapatkan pada kelinci-kelinci yang diberi diit tinggi kholesterol + imunisasi,dibandingkan dengan mereka yang hanya mendapat diit tinggi kholesterol atau imunisasi saja.
Lesi-lesi akibat paduan kedua faktor ini juga lebih mirip dengan lesi pada manusia diajukan hipotesa bahwa antigen dari zat makanan juga merangsang pembentukan autozat-anti, selanjutnya autozat-anti ini akan menyebabkan gangguan pada pembuluh darah.Bila mekanisme imunologik dalam hipotesa diatas kemudian ternyata benar, ada beberapa implikasi yang menyertainya,yaitu :
1.Mungkin akan dapat diselidiki zat-zat makanan yang paling berperanan dalam pembentukan zat-anti, maka sebagai pencegahan atherosclerosis zat makanan tersebut dapat disingkirkan dari diit.
2.Cara pencegahan primer lain dapat berupa pengubahan/modifikasirespons imun, seperti pembatasan jumlah protein dalam diit.
3. Obat-obat yang menghambat respons imun (atau menghambat efek-efeknya, seperti peradangan) dapat dipakai sebagai profilaksis/pengobatan.
4. Mungkin dikemudian hari dapat ditemukan cara mencegah auto imunisasi dengan cara-cara imunologik.

ANTIBODI DAN VIRUS HHV-7 ADALAH DUA PENEMUAN PENTING.

DUA penemuan penting di dunia biologi perubatan telah dilakukan satu di Britain dan satu penemuan lagi di Malaysia. Di Britain, saintis di Cambridge berjaya mencipta antibodi buatan.
Di Malaysia, saintis di Universiti Malaya (UM) menemui Virus Herpes Manusia (HHV-7) dalam air liur yang mungkin boleh digunakan untuk menghalang virus HIV daripada merebak.
Walaupun kedua-dua penemuan itu tidak mempunyai kaitan secara langsung, namun ia membuka lembaran baru dalam bidang perobatan menjelang alaf baru.
Sekumpulan saintis British di Cambridge telah menciptakan antibodi buatan yang berupaya mengaktifkan sistem keimunan badan.
Greg Winter, Philip Holliger dan Roland Konterman dari Majlis Makmal Biologi di Cambridge, menghasilkan antibodi yang merangsang protein sistem imun badan untuk 'menelan' sel berpenyakit dan melawan kemasukan bendasing dalam tubuh.
Antibodi berbentuk huruf 'Y' itu mengenal pasti sel tidak normal dan jangkitan benda asing.
Bagian ujung antibodi berbentuk Y itu, mempunyai fungsi mengikat atau 'mencengkram' sel berpenyakit pada antigen.
Bagian ekor antibodi akan mengeluarkan isyarat sebaik yang mengesan jangkitan.Sepanjang beberapa abad yang lalu, pakar imunologi telah mencoba berbagai teknik genetik mencipta antibodi buatan untuk merawat berbagai jenis penyakit seperti keracunan darah dan kanker.
Bagaimanapun kesukaran mencipta antibodi tiruan yang lengkap dengan 'ekor' dan 'pencengkam'.Kebanyakan antibodi buatan yang diciptakan sebelum ini mempunyai pencengkam, yang 'mencengkam' bendasing, tetapi tidak dapat berfungsi dengan menyeluruh terhadap benda asing itu kerana tidak mempunyai 'ekor' untuk menggerakkan sistem imun secara keseluruhannya.
Untuk mengatasi masalah itu, pasukan saintis dari Cambridge telah menggabungkan dua set 'pencengkam' antibodi untuk menghasilkan 'diabody' (dua bahagian yang bercantum).Satu set pencengkam (diabody) akan berfungsi. Satu pencengkam mencengkam benda asing, dan seterusnya menandakan benda asing itu untuk tindakan penghapusan.
Satu lagi bagian pencengkam akan membentuk bahagian ekor, berfungsi mengeluarkan isyarat untuk tindakan sistem keimunan.'Diabody' itu berukuran lebih kecil daripada antibodi semula, jadi mereka lebih mudah menembus tisu badan.
Apabila antibodi semula jadi 'memerangkap' bendasing, maka bagian ekor akan mengeluarkan bahan gumpalan protein dalam serum darah, yang dipanggil pelengkap.Protein ini akan menyerang dan memusnahkan sel yang telah 'diperangkap' tadi selain memberi isyarat kepada sel darah putih, phagocytes dan monocytes yang akan 'menghadang' bendasing itu.Pada kebiasaannya, pelengkap protein yang untuk memusnahkan benda asing itu, adalah berukuran besar dipanggil CIq, yang akan mengikat dengan bagian ekor antibodi.Untuk memantapkan kesan dan tindakan sistem keimunan, para penyelidik mencipta satu set 'pencengkam' antibodi yang hanya mengikat CIq ini.
Setelah pencengkam itu mengikat CIq, kumpulan saintis itu 'menumbuhkan' satu set pencengkam yang mampu berfungsi ke atas satu model antigen, yang dipanggil 'hen egg lysozyme'.Kertas penyelidikan pada Julai bertajuk 'Nature Biotechnology' (kandungan 15, muka surat 629) menjelaskan bagaimana menambah 'diabody' ke sel darah merah bebiri yang telah dijangkiti dengan 'hen egg lysozyme' itu dan hasilnya adalah positif.Di Malaysia, para penyelidik menghasilkan penemuan bertaraf dunia apabila mereka mengenal pasti kedudukan HHV-7 dalam air liur yang mungkin boleh digunakan untuk menghalang virus HIV.
Walaupun virus HHV-7 telah ditemui pada 1990 oleh Dr. Niza Frankel dari University of New York, Amerika Syarikat (AS) pada 1990, tetapi saintis masih belum mengetahui kedudukan virus berkenaan dalam tubuh manusia.

Rabu, 21 September 2011

trombosit

Trombosit Turun Tak Selalu Demam Berdarah

Selain demam berdarah, ada beberapa penyakit lain yang ditandai oleh
penurunan kadar trombosit. Apa sajakah itu? Pada mulanya, Desi (empat tahun)
memang menderita demam. Ketika diperiksa lebih jauh, kadar trombositnya
ternyata turun sampai 30 ribu/mm3. Dokter pun mendiagnosis Desi mengidap
demam berdarah. Setelah delapan hari, suhu tubuh yang tadinya mencapai 39
derajat Celsius berangsur turun. Heni (30 tahun), sang ibu, tentu saja lega.
Tapi ia mendeteksi keanehan. Pasalnya, pemeriksaan ulang menunjukkan, trombosit Desi anjlok, hingga tinggal 9.000/mm3. ”Saya sampai kaget, karena tidak demam lagi, saya pikir
dia sudah sembuh dari demam berdarah (DB),” kata Heni. Ternyata rendahnya
kadar trombosit dalam darah Desi memang bukan karena DB. Tapi karena tubuh
menghasilkan antibodi yang menyerang trombosit. ”Ternyata anak saya
menderita ITP (Immunologic Thrombocytopenia Purpura), bukan DB. Syukur
Alhamdulillah, setelah diberi obat oleh dokter, si kecil kini sudah sehat, ‘
jelas Heni lega.
Penurunan trombosit hingga di bawah batas normal memang kerap diidentikkan
dengan demam berdarah, khususnya di kalangan awam. Padahal tidak selamanya
demikian. Dalam keadaan normal, trombosit dalam darah mencapai 150 ribu-450
ribu/mm3. Dalam keadaan tidak normal, trombosit yang berperan dalam
pembekuan darah ini bisa turun. Keadaan ini disebut dengan trombositopenia,
yakni trombosit berada dalam keadaan rendah. Demam berdarah hanyalah salah
satu penyakit yang ditandai oleh turunnya kadar trombosit.
Menurut Prof dr Zubairi Djoerban SpPD KHOM, ahli hematologi dari Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)/RS Cipto Mangunkusumo (RSCM),
trombosit rendah bisa disebabkan oleh bermacam hal. Tapi secara garis besar,
penurunan kadar trombosit disebabkan oleh dua hal yaitu kerusakan trombosit
di peredaran darah, atau kurangnya produksi trombosit di sumsum tulang.
Kerusakan trombosit
Demam berdarah merupakan jenis kerusakan trombosit yang populer di
masyarakat. Menurut kepala divisi Hematologi-Onkologi Medik Bagian Penyakit
Dalam FKUI/RSCM ini, penyebab kerusakan trombosit dalam DB adalah infeksi.
Selain demam berdarah, infeksi yang juga mengurangi trombosit adalah tifus.
Kerusakan trombosit juga bisa terjadi pada penyakit ITP. Ini merupakan
penyakit auto-imun di mana zat anti yang dibentuk tubuh malah menyerang
trombosit.
”Melalui mekanisme imunologi tadi, trombosit menjadi berkurang,” jelas
Zubairi. Pada ITP, gejalanya bisa berupa bercak-bercak perdarahan di kulit.
Sementara pada DB, penderita mengalami demam dan penurunan trombosit tapi
berangsur normal dalam delapan hari. ”Jika (trombosit rendah) lebih dari
delapan hari, kita harus pikirkan kemungkinan yang lain. Salah satunya
adalah ITP,” jelas hematolog yang juga dikenal sebagai salah satu dari
sedikit pakar AIDS di Indonesia ini. ITP seringkali menyerang wanita usia
reproduksi, yakni di bawah 35 tahun.
Tapi bukan berarti, ITP tak bisa menyerang kelompok usia lanjut. Hanya saja,
kasus ITP pada kelompok usia lanjut, terbilang jarang. ”Seperti penyakit
lupus, ITP lebih sering ditemui pada wanita, laki-laki hanya sekitar dua
persen,” kata Zubairi. Penurunan kadar trombosit juga bisa ditemui dalam
kasus DIC (Disseminated Intravascular Coagulation). Biasanya, ini terjadi
pada pasien dengan penyakit berat. ”Seperti pasien dengan sirosis hati,
shock, infeksi kuman apapun dalam darah yang berat sekali, serta penyakit
lupus,” lanjutnya. Trombosit yang rendah bisa juga dikarenakan produksi
yang kurang.
Penyakitnya bisa berupa anemia aplastik. Anemia aplastik terjadi jika sel
yang memproduksi butir darah merah yang terletak di sumsum tulang, tidak
dapat menjalankan tugasnya. ”Pada anemia aplastik, trombosit yang rendah
juga disertai leukosit yang rendah sehingga sumsum tulangnya kosong,” jelas
Zubairi. Selain anemia aplastik, trombosit yang rendah juga kerap ditemui
pada penderita penyakit leukemia. Sering juga ditemui pada penderita
penyakit mielofibrosis. Menurut Zubairi, pada penyakit ini keadaan limfa dan
liver membesar.
Sebenarnya, sewaktu kita lahir, trombosit diproduksi oleh limfa dan liver.
Seiring pertambahan usia, fungsi ini kemudian dijalankan oleh sumsum tulang.
Karena muncul penyakit mielofibrosis, sumsum tulang tidak berfungsi sehingga
limfa dan liver kembali bekerja dan membesar. Untuk mengetahui penyakit mana
yang diderita, perlu dilakukan tes. ”Tidak bisa karena trombosit rendah
langsung dikatakan ITP,” ujar Zubairi. Menurutnya, dalam prinsip kedokteran
semakin sedikit data maka akan semakin banyak kemungkinan.
Pengobatan
Pengobatan setiap penyakit berbeda. Pada penderita ITP, karena ada zat yang
menyerang trombosit, tidak dilakukan transfusi trombosit. Pada ITP,
transfusi trombosit justru akan merangsang zat anti untuk berproduksi. Jadi,
pengobatan utamanya adalah dengan menghilangkan mekanisme auto-imun tadi. ‘
Produksi antibodi ditekan dengan obat yang bersifat kortikosteroid seperti
prednison,” tambah kepala Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah
Indonesia (PHTDI) ini. Jika tidak mempan dengan prednison, biasanya
dilakukan operasi kecil untuk membuang limfa.
Angka kematian akibat trombosit rendah cenderung kecil. Seperti demam
berdarah, angka kematian pada orang dewasa di bawah 10 persen, dan sedikit
lebih besar pada bayi dan anak-anak. ”Kecuali pada anemia aplastik yang
berat dan leukemia”. ITP sendiri jarang menyebabkan kematian. ”Kecuali
pada saat trombosit rendah, pasien terpeleset dan jatuh sehingga terjadi
perdarahan di otak,” Zubairi memberikan contoh. Sampai batas berapa
seseorang bisa bertahan dengan trombosit rendah? ”Tergantung,” jawabnya.
Pada leukemia dan anemia aplastik, pasien dengan trombosit 20 ribu/mm3 sudah
berdarah-darah.
Sedangkan pada DB, hanya berupa bintik-bintik. ”Pada penderita ITP, meski
trombositnya mencapai 15 ribu hingga 10 ribu, tidak ada perdarahan sama
sekali, apalagi jika diberikan pengobatan”. Sedangkan penderita DIC bisa
berdarah pada tempat infus hingga gusi. Menurut Zubairi, selain melihat
jumlah trombosit, dokter juga akan melihat fungsinya, yakni masa perdarahan
(bleeding time) yang normalnya mencapai 1-4 menit.
Dari sisi jumlah, ada beberapa titik penting yakni 0, 20 ribu, 40 ribu, 100
ribu, dan 150 ribu. Untuk penderita DB misalnya, jika trombositnya sudah di
bawah 100 ribu/mm3 sebaiknya diopname. Biasanya diberikan infus. Perlukah
transfusi trombosit? Tidak perlu karena trombosit akan naik sendiri, kecuali
jika trombosit sudah di bawah 20 ribu/mm3 dan terjadi perdarahan. Pemberian
transfusi juga dilakukan dengan melihat masa perdarahan. ”Jika sudah lebih
dari 10 menit, misalnya, berikan transfusi trombosit”. Sedangkan pada
anemia aplastik dan leukemia, karena seringkali menyebabkan perdarahan, maka
transfusi trombosit harus sering diberikan. Tapi ingat, transfusi trombosit
sebaiknya diambil dari donor tunggal.

Jumat, 14 Januari 2011

Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Pengelolaan Limbah B3 ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 1994 yang dibaharui dengan PP No. 12 tahun 1995 dan diperbaharui kembali dengan PP No. 18 tahun 1999 tanggal 27 Februari 1999 yang dikuatkan lagi melalui Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tanggal 26 November 2001 tentang Pengelolaan Limbah B3

Pengertian B3

Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusakan lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.

Intinya adalah setiap materi yang karena konsentrasi dan atau sifat dan atau jumlahnya mengandung B3 dan membahayakan manusia, mahluk hidup dan lingkungan, apapun jenis sisa bahannya.

Tujuan pengelolaan limbah B3

Tujuan pengelolaan B3 adalah untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3 serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali.

Dari hal ini jelas bahwa setiap kegiatan/usaha yang berhubungan dengan B3, baik penghasil, pengumpul, pengangkut, pemanfaat, pengolah dan penimbun B3, harus memperhatikan aspek lingkungan dan menjaga kualitas lingkungan tetap pada kondisi semula. Dan apabila terjadi pencemaran akibat tertumpah, tercecer dan rembesan limbah B3, harus dilakukan upaya optimal agar kualitas lingkungan kembali kepada fungsi semula.

Identifikasi limbah B3

Pengidentifikasian limbah B3 digolongkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu:

  1. Berdasarkan sumber
  2. Berdasarkan karakteristik

Golongan limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi:

  • Limbah B3 dari sumber spesifik;
  • Limbah B3 dari sumber tidak spesifik;
  • Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.

Sedangkan golongan limbah B3 yang berdasarkan karakteristik ditentukan dengan:

  • mudah meledak;
  • pengoksidasi;
  • sangat mudah sekali menyala;
  • sangat mudah menyala;
  • mudah menyala;
  • amat sangat beracun;
  • sangat beracun;
  • beracun;
  • berbahaya;
  • korosif;
  • bersifat iritasi;
  • berbahayabagi lingkungan;
  • karsinogenik;
  • teratogenik;
  • mutagenik.

Karakteristik limbah B3 ini mengalami pertambahan lebih banyak dari PP No. 18 tahun 1999 yang hanya mencantumkan 6 (enam) kriteria, yaitu:

  • mudah meledak;
  • mudah terbakar;
  • bersifat reaktif;
  • beracun;
  • menyebabkan infeksi;
  • bersifat korosif.

Peningkatan karakteristik materi yang disebut B3 ini menunjukan bahwa pemerintah sebenarnya memberikan perhatian khusus untuk pengelolaan lingkungan Indonesia. Hanya memang perlu menjadi perhatian bahwa implementasi dari Peraturan masih sangat kurang di negara ini.
Pengelolaan dan pengolahan limbah B3

Pengelolaan limbah B3 meliputi kegiatan pengumpulan, pengangkutan, pemanfatan, pengolahan dan penimbunan.

Setiap kegiatan pengelolaan limbah B3 harus mendapatkan perizinan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan setiap aktivitas tahapan pengelolaan limbah B3 harus dilaporkan ke KLH. Untuk aktivitas pengelolaan limbah B3 di daerah, aktivitas kegiatan pengelolaan selain dilaporkan ke KLH juga ditembuskan ke Bapedalda setempat.

Pengolahan limbah B3 mengacu kepada Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Nomor Kep-03/BAPEDAL/09/1995 tertanggal 5 September 1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (www.menlh.go.id/i/art/pdf_1054679307.pdf)

Pengolahan limbah B3 harus memenuhi persyaratan:

  • Lokasi pengolahan

Pengolahan B3 dapat dilakukan di dalam lokasi penghasil limbah atau di luar lokasi penghasil limbah. Syarat lokasi pengolahan di dalam area penghasil harus:

  1. daerah bebas banjir;
  2. jarak dengan fasilitas umum minimum 50 meter;

Syarat lokasi pengolahan di luar area penghasil harus:

  1. daerah bebas banjir;
  2. jarak dengan jalan utama/tol minimum 150 m atau 50 m untuk jalan lainnya;
  3. jarak dengan daerah beraktivitas penduduk dan aktivitas umum minimum 300 m;
  4. jarak dengan wilayah perairan dan sumur penduduk minimum 300 m;
  5. dan jarak dengan wilayah terlindungi (spt: cagar alam,hutan lindung) minimum 300 m.
  • Fasilitas pengolahan

Fasilitas pengolahan harus menerapkan sistem operasi, meliputi:

  1. sistem kemanan fasilitas;
  2. sistem pencegahan terhadap kebakaran;
  3. sistem pencegahan terhadap kebakaran;
  4. sistem penanggulangan keadaan darurat;
  5. sistem pengujian peralatan;
  6. dan pelatihan karyawan.

Keseluruhan sistem tersebut harus terintegrasi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pengolahan limbah B3 mengingat jenis limbah yang ditangani adalah limbah yang dalam volume kecil pun berdampak besar terhadap lingkungan.

  • Penanganan limbah B3 sebelum diolah

Setiap limbah B3 harus diidentifikasi dan dilakukan uji analisis kandungan guna menetapkan prosedur yang tepat dalam pengolahan limbah tersebut. Setelah uji analisis kandungan dilaksanakan, barulah dapat ditentukan metode yang tepat guna pengolahan limbah tersebut sesuai dengan karakteristik dan kandungan limbah.

  • Pengolahan limbah B3

Jenis perlakuan terhadap limbah B3 tergantung dari karakteristik dan kandungan limbah. Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan dapat dilakukan dengan proses sbb:

  1. proses secara kimia, meliputi: redoks, elektrolisa, netralisasi, pengendapan, stabilisasi, adsorpsi, penukaran ion dan pirolisa.
  2. proses secara fisika, meliputi: pembersihan gas, pemisahan cairan dan penyisihan komponen-komponen spesifik dengan metode kristalisasi, dialisa, osmosis balik, dll.
  3. proses stabilisas/solidifikasi, dengan tujuan untuk mengurangi potensi racun dan kandungan limbah B3 dengan cara membatasi daya larut, penyebaran, dan daya racun sebelum limbah dibuang ke tempat penimbunan akhir
  4. proses insinerasi, dengan cara melakukan pembakaran materi limbah menggunakan alat khusus insinerator dengan efisiensi pembakaran harus mencapai 99,99% atau lebih. Artinya, jika suatu materi limbah B3 ingin dibakar (insinerasi) dengan berat 100 kg, maka abu sisa pembakaran tidak boleh melebihi 0,01 kg atau 10 gr

Tidak keseluruhan proses harus dilakukan terhadap satu jenis limbah B3, tetapi proses dipilih berdasarkan cara terbaik melakukan pengolahan sesuai dengan jenis dan materi limbah.

  • Hasil pengolahan limbah B3

Memiliki tempat khusus pembuangan akhir limbah B3 yang telah diolah dan dilakukan pemantauan di area tempat pembuangan akhir tersebut dengan jangka waktu 30 tahun setelah tempat pembuangan akhir habis masa pakainya atau ditutup.

Perlu diketahui bahwa keseluruhan proses pengelolaan, termasuk penghasil limbah B3, harus melaporkan aktivitasnya ke KLH dengan periode triwulan (setiap 3 bulan sekali)